Wednesday, 30 December 2015

Sejarah

Semenjak saya masuk semester 1 di fakultas teknik, justru di situlah rasa ketertarikan saya terhadap ilmu sosial muncul. Lebih spesifik lagi, yaitu ilmu sejarah. Saya juga tidak tahu kenapa, mengingat dulu waktu sekolah sejak SD sampai SMA, saya takut sekali dengan pelajaran sejarah karena mewajibkan saya untuk banyak menghafal.

Semua ketertarikan itu berawal ketika saya datang ke perpustakaan pusat pada minggu ke-2 saya sebagai maba, dan menemukan sebuah buku bersampul biru terletak di meja di depan saya. Buku tersebut berjudul ‘GERPOLEK’ karya Tan Malaka. Entah apa yang merasuki saya, saya langsung melahap buku tersebut saat itu juga.

Pada akhirnya saya mencari rak buku di mana buku GERPOLEK tersebut seharusnya disimpan, berdasarkan nomor registrasi yang tertera di buku tersebut (berbekal ilmu waktu OBM). Dari situ, karena tertarik juga dengan isi buku tersebut, saya mencari buku-buku lain karangan Tan Malaka di area rak buku sekitar situ.

Singkat cerita, di semester 1 itu saya semakin rajin datang ke perpusat. Karena belum menemukan teman yang punya ketertarikan yang sama, saya memilih untuk pergi sendiri. Biasanya sesudah kelas di siang hari, sambil menunggu agenda mabim pada malam hari (omg I feel old writing this haha).
Dari sejarahnya, Tan Malaka sendiri berada di pihak oposisi jika disandingkan dengan tokoh-tokoh revolusi lainnya seperti Soekarno, Hatta, dan Sjahrir. Maka dari itu, saya menjadi semakin tertarik membaca buku-buku lainnya yang mengandung ideologi-ideologi yang bertentangan dengan Tan Malaka.

Ya, itulah awal mula saya menyukai ilmu sejarah. Saya menemukan betapa tidak eksaknya ilmu sejarah. Secara teori, perbedaan mendasar antara ilmu sejarah dengan ilmu eksakta atau ilmu alam sendiri adalah sifat pengulangannya, di mana ilmu alam selalu mempunyai pattern dan keteraturan, sedangkan sejarah itu bersifat unik atau partikularistik. Nah, itulah yang bikin menarik.

Penasaran juga bagaimana para sejarawan dapat mengkonstruksi sebuah cerita sejarah, kemudian menuliskannya kembali, berdasarkan bukti-bukti yang ada, yang bisa saja;
merupakan dokumen-dokumen lama yang sudah usang,
merupakan dokumen-dokumen terlarang yang hanya boleh dibaca orang-orang tertentu,
ditulis menggunakan tulisan tangan, atau mungkin
menggunakan bahasa-bahasa dan istilah-istilah lama yang sudah tidak digunakan lagi.

Hingga saat ini, saya masih menganggap sejarah merupakan disiplin ilmu yang menarik. Dan ternyata, sejarah itu luas sekali. Jangankan sejarah dunia, sejarah Indonesia saja jika dirunut dari masa-masa kerajaan, kolonialisme, pra-kemerdekaan, kemerdekaan, hingga pasca kemerdekaan pun seperti tidak ada habisnya (kemana aja gue selama ini?)

Sunday, 27 December 2015

19 years of my life in 19 paragraphs

Sebagian besar hidup gue, gue habiskan di kota kecil di ketinggian hampir 2000 m dpl, di ujung timur Indonesia, Papua, setelah sebelumnya, gue numpang lahir di Bandung, di rumah sakit kecil yang bakal selalu dilewatin kalo mau ke PVJ.

Masa-masa selama di Papua bisa dibilang adalah masa-masa terindah hidup gue. Adek gue juga mengakui hal itu. Hidup dengan udara bersih, tanpa macet, dikelilingi oleh pegunungan dan hutan lebat. Dan percayalah, di kota tersebut lo bisa memandang awan sambil menunduk, bukan mendongak. Ya, posisi awannya ada di bawah. 

       Selama 14 tahun hidup di sana, gue sempet 3+1 kali pindah rumah, tapi tetep di dalam kota tersebut, hingga akhinya gue menetap di tumah terakhir gue, rumah terpewe, layaknya rumah idaman yang terealisasi. Gue punya banyak spot-spot tersembunyi di rumah itu. Spot di mana gue bisa menenangkan diri, berhayal, dan melakukan hal-hal aneh dan menyenangkan sendirian. Emang dasar introvert. 

Dari playgroup (sebelum TK) sampai SMP gue habiskan di sekolah satu-satunya yang ada di kota tersebut. Teman-teman gue pun rata-rata begitu, jadi kalau digeneralisasi temen-temen SMP gue adalah temen-temen gue dari TK. Masa-masa sekolah berlalu begitu cepat, kalo dibayangin sekarang. Tapi gue bersyukur masih bisa mengingat momen-momen indah di setiap tahun yang gue lewati #yea.

Di sana, gue hidup di antara kemajemukan. Beragam suku bangsa, ras, dan agama ada di sana, karena selain orang-orang asli Papua, banyak juga pendatang dari penjuru Indonesia. Tinggal di tempat di mana gue adalah bagian dari minoritas pun cukup mengajarkan gue tentang toleransi, tapi di satu sisi juga menguatkan aqidah gue (insya Allah). Ya intinya, gue jadi mengerti apa itu toleransi yang sebenarnya, yaitu bukan dengan mencampur aduk aqidah ataupun menghakimi dan menjustifikasi satu sama lain, seperti yang sekarang justru marak terjadi. Yasudah, gausah bahas itu daripada debat. Ehm.

Dulu, dari awal SD sampe lulus SMP, gue punya kegiatan rutin mingguan yaitu les piano, bareng Ria, Uli, Almarhumah Een, Dika, dan beberapa temen-temen satu sekolah lainnya yang gak seangkatan. Sempet beberapa kali recital juga.

Selain itu, gue juga punya agenda rutin mingguan yang selalu bikin excited yaitu pergi ngaji ke rumah guru ngaji (bukan ke masjid). Kenapa excited? Karena sambil nunggu giliran lo ngaji, lo bisa main-main di halaman rumah gurunya atau main di sungai deket situ. 

Datanglah semester terakhir gue di SMP, di mana semua temen seangkatan gue galau. Kenapa? Karena lulus SMP, semuanya harus keluar dari kota kecil nan indah tersebut, kalau mau melanjutkan pendidikan ke SMA. Ada yang kembali ke kampung halaman bersama orang tuanya, ada juga yang merantau sendiri, salah satunya gue. Gue melanjutkan SMA di Bandung (lebih tepatnya Lembang). Gue dan orang tua memilih sekolah berasrama karena gak enak kalau nitipin gue di nenek yang di Bandung. Seinget gue sih gitu pertimbangannya, selain supaya gue belajar mandiri dan blablablabla.

2011 gue lulus SMP, di tahun itu juga gue merantau ke Bandung. Beradaptasi ternyata gak gampang. Awal-awal gue tinggal di Bandung, gue bersusah payah menyesuaikan diri dengan budaya sunda di sekitar. Bahasa, logat, tutur kata, tingkah, bahkan hal-hal kecil kayak ‘nunjuk pake jempol’ pun coba gue pelajari. Susah sih, jujur. Ya bayangin aja budaya Papua dan Sunda itu tidak banyak beririsan.

Desember 2011, sebuah kejadian traumatis menimpa keluarga gue, yang kemudian menjadi salah satu pendorong utama orang tua untuk memutuskan pindah ke Jakarta pada pertengahan 2012, setelah di-trigger oleh kejadian serupa di pertengahan 2009. Hingga sekarang, orang tua masih tinggal di Jakarta.

Selama SMA, gue gak banyak beraktivitas di luar hal akademis, dikarenakan gue masuk akselerasi dan sempet beberapa kali jadi delegasi sekolah untuk olimpiade matematika. Ya, matematika, matpel yang justru pernah bikin gue mogok sekolah waktu SMP. Yah, meskipun jarang jauh dari buku, tapi gue merasa gue belajar banyak tentang ‘what is life and what is life supposed to be like’ waktu SMA.

Waktu SMA juga gue mulai melihat dunia luar. Setelah 14 tahun hidup di (literally) belantara hutan dan pegunungan (well, tetep ada internet kok) akhirnya gue ke kota. Jujur, awalnya gue stress, terutama dengan kondisi lalu lintasnya yang semrawut dan padat. Gue bahkan baru bisa nyebrang jalan sendirian setelah sekian bulan tinggal di Bandung. Tapi di satu sisi, gue bersyukur karena akhirnya mata gue terbuka tentang bagaimana hidup sebenarnya, karena bisa dibilang hidup gue selama di Papua itu terlalu indah layaknya fairytale. Dengan kata lain, di masa SMA inilah awal mula gue ditempa.

Sampai awal tahun terakhir di SMA, di kepala gue masih terbayang bahwa gue akan melanjutkan studi di sekolah penerbangan, dan gak lama dari situ gue akan jadi pilot. Namun takdir berkata lain. Karena masalah keterbatasan fisik yang gak bisa diapa-apain lagi dan beberapa faktor eksternal lainnya, akhirnya gue pun menjalani apa yang teman-teman gue jalani; masuk universitas.

Kalau dirunut ceritanya kenapa gue bisa berakhir kuliah di sini, di jurusan ini, agak bingung juga. Kalau diinget-inget, semua proses terasa begitu cepat, kayak ada yang nyetir gue. Yang gue inget adalah justru betapa stressnya gue mempersiapkan UN biologi, karena itu merupakan titik terlemah gue. Entahlah, Allah Maha Hebat dalam membuat skenario.

Sekarang gue sedang liburan semester 5, 2 bulan lagi akan masuk semester 6. Gak kerasa, nyet. Kadang kalo ditanya, ‘semester berapa?’ gue suka jadi panik sendiri -_- Hm, selama 5 semester di kampus, gue cukup banyak (atau terlalu banyak?) beraktivitas. Kadang gue kangen mager-mageran di rumah. Tapi, pengennya di rumah yang di Papua hehehehehehheheh gakdeng. Intinya, gue bersyukur bisa punya kesempatan untuk banyak belajar selama di kampus ini, baik hal akademis maupun non akademis. Gue juga sangat berterima kasih pada orang-orang hebat yang gue temuin selama di kampus. I learnt a lot from you guys!

Selama kuliah, gue tinggal di apartemen mungil dengan luas seperenam dari luas rumah gue sebelumnya, menempuh waktu 20 menit untuk pulang-pergi ke kampus mengunakan KRL Commuter line. 

Banyak hal-hal yang terjadi selama gue tinggal di Jakarta, dan semua itu bikin gue semakin kangen sama Papua. Hingga akhirnya, rasa kangen itu terobati waktu gue Kerja Praktek di semester kemaren. Walaupun ketika itu gue tinggal di tempat yang sedikit berbeda dan bertujuan untuk melakukan kegiatan yang amat berbeda, seketika gue menginjakkan kaki di sana, gue nangis. Dramatis abis, tapi gue beneran menitihkan air mata seketika gue nyampe Papua. Plis jgn ketawa.

Pada akhirnya, ketika melihat ke belakang, bersyukur adalah hal yang paling tepat, ya. Allah dengan segala skenarionya memang gak bisa ada yang ngalahin. Selama perjalannya, pasti ada naik dan turun. Tetapi ketika kita melihat itu semua ke belakang, rasanya indah sekali :)

Oke, I’m not that capable of creating a good ‘ending’. So maybe that’s it, 19 years of my life in 19 paragraphs.

Wednesday, 23 December 2015

ikhlas

Sedikit cerita tentang apa yang terjadi hari Jumat, 11 Desember 2015 lalu di gedung dekanat lantai 2, di bagian keuangan..

Usai UAS siang itu, Gue dan Fadli sedang merapikan sejumlah uang (bantuan dana dekanat) yang baru aja cair, menghitung ulang nominal-nominalnya, memisahkan berdasarkan jatah masing-masing pengaju, merekap data, dll. Sebenernya gue udah demisioner dari tanggal 4 Desember, tapi masalah pencairan dana ini memang belum selesai semuanya, dan gak mungkin gue lepas tangan dan menurunkan begitu saja ke Komisi keuangan 2016.

“Semoga kuliah kalian dilancarkan, ya. Udah mau capek-capek ngerjain ini semua, lagi UAS pula, bahkan digaji pun nggak", kata Mbak Dewi, salah satu staf keuangan dekanat yang bersangkutan.

“Biasanya kalau diberi sesuatu yang berat di satu bagian, bagian lain dimudahkan. Insya Allah kuliah dan ujian-ujian kalian diberi kemudahan, ya," lanjut Mbak Dewi.

Jleb. Hati gue semacam ditohok (atau apapun bahasanya). Di satu sisi hati gue berteriak meng-‘aamiin’-kan doa Mbak Dewi tadi. Tapi di satu sisi gue juga bertanya-tanya; sudah seikhlas apa gue melakukan ini semua sehingga pantas untuk dimudahkan di urusan lainnya?

Tuesday, 22 December 2015

mother's day?

Looking over today’s all social media timeline, I think many people have misled and misunderstood today’s term of ‘Mother’s Day’. Historically, today was the day when the first Kongres Perempuan Indonesia was held in Yogyakarta, 1928. The congress itself was meant to escalate women’s right towards education and marriage. Then, in 1959, Soekarno officially released a presidential decree regarding today's national day (you can search about it further over the internet). So simply, it’s actually not about that mother-thingy at the beginning.

BUT ANYWAY, I don’t actually judge those people who posted about their photos with their moms. I’ll never will, because nothing is wrong with that. Let’s just don’t argue about that.


One thing that I basically want to point out here; just let everyday be mother’s day, where you should always give her your best, give her everything you got, everyday :)

Saturday, 12 December 2015

hey, you..

Kamu tidak banyak bicara. Tapi aku tahu kamu bukannya tidak peduli, melainkan caramu peduli memang berbeda. Itu kelebihanmu.

Sebetulnya, kita memiliki kesamaan. Ya, dalam hal mengutarakan pikiran. Aku tahu kamu berpikir banyak tentang suatu hal. Aku pun begitu. Tetapi kamu tidak tahu kepada siapa kamu harus mengungkapkan pikiranmu itu, dan bagaimana kamu mengungkapkannya. Aku pun begitu.

Lalu, seharusnya bagaimana?


Aku pun tidak benar-benar bisa menjawabnya. Kamu pun begitu. Walaupun sebenarnya hati ini sedikit tahu, tetapi memilih untuk pura-pura tidak tahu. Tetapi satu hal yang kutahu; kamu pun begitu

Saturday, 10 October 2015

Tudei

Hari ini hari Sabtu.
Hari ini Ande datang dari Bandung untuk menghabiskan akhir pekan
Hari ini papa tidak masuk kerja (finally)
Hari ini mama masih pameran

Hari ini aku bangun kesiangan.
Hari ini aku menggagalkan semua productivity bullshit that I planned last night
Hari ini kepalaku penuh dengan hal-hal random

Hari ini aku merasa perlu mengistirahatkan diri pasca minggu-minggu yang (mentally) melelahkan
Hari ini aku merasa perlu mengistirahatkan diri sembari mempersiapkan diri untuk minggu-minggu ke depan yang akan lebih melelahkan

Hari ini aku membereskan kamar dan menemukan setumpuk koreksian yang belum dikoreksi
Hari ini aku merapikan rak buku dan merasa rindu dengan waktu-waktu di masa lalu di mana aku bisa melahap banyak buku

Hari ini aku menemukan cacatan sewaktu eksplorasi calon M*M tahun lalu
Hari ini aku merasa bersyukur karena mengetahui diriku sudah melaksanakan beberapa janjiku saat itu, tapi
Hari ini pun aku merasa sedih karena mengetahui diriku belum melaksanakan beberapa janji lainku saat itu. 

Hari ini adalah hari ke-40 pasca kembali dari Tembagapura
Hari ini aku membuka kembali galeri foto selama di Tembagapura
Hari ini aku merasa betapa melihat langit biru ditemani awan yang putih (bukan abu) itu sangat menyenangkan

Hari ini aku merindukan kalian. Kalian.

Friday, 26 June 2015

Ga tau

Beberapa nilai udah keluar. IP sementara udah ada. Kalo ada yg nanya gimana perasaannya? 

Ga tau

Mau sedih? Yha usaha semester kemaren emang cuma segitu.

Mau kecewa? Yha jgn kecewa ama angka dan huruf yang keluar di SIAK. Harusnya kecewa ama diri sendiri yang belajarnya gitu2 aja. Sok2an nge-deadline padahal gak mampu. Ups.

Mau minta lebih? Yha gausah lah. Nyadar diri aja. Hargain orang lain yang usaha maksimal. Gak adil kan kalo yang usaha maksimal dapet nilai yang sama dengan gue.

Mau seneng? Yah gampang puas banget sih. 


Terus aing kudu gimana?



Ga tau.


-----------
Sesungguhnya gue gatau knp gue nulis ini-_-

Nyaman?

Ya. Kondisi yang paling pas dan nyaman untuk berduaan dengan Sang Pencipta adalah ketika semua orang sudah/masih terlelap tidur. Lampu dimatikan. Gelap. Hanya ada aku dan Dia.

Perlahan-lahan doa dipanjatkan. Semakin lama semakin terasa nikmat. Dari hal-hal general hingga hal-hal sensitif dan mendetail, semua tercurahkan. Nikmatnya memohon dan bercerita kepada Yang Memiliki Segalanya dan Yang Maha Mengetahui.

Tapi, seberapa sering diri ini bisa sampai pada titik 'nyaman' tersebut? 

Ketika semua orang terlelap tidur, rasanya ingin pula ikut tidur. 
Ketika semua orang masih terlelap tidur, rasanya ingin pula melanjutkan tidur.

Ah, diri ini memang lemah. Untuk mencapai titik 'nyaman' saja masih butuh perjuangan. Bagaimana ketika nanti dihadapkan untuk mencapai suatu titik 'ketidaknyamanan'? Atau mungkin, diharuskan berkorban untuk 'ketidaknyamanan'? Yakin kuat?



10.38 PM
Gelap. Semua sudah tidur.

Sunday, 7 June 2015

First priority?

I know this rarely happens, but yesterday I had a deep conversation with my mom. Long story short, it was about my family's current condition. It all started around 3 years ago, but is getting worse througout these last 2 years. I basically had no idea what to do about it, nor know whether there is actually something i can do to help anyway. 

Happily, there was the answer;

'Put him on your first priority'

Friday, 5 June 2015

2013 v 2015



2 tahun lagi foto bareng pas kelulusan ya ;p
"Mau dikasih apa?"
"Gak pengen apa2. Cuma pengen papa bisa cuti (dari kerja)"


------------


Waktu sehat jarang bersyukur. Giliran sakit baru sadar betapa nikmatnya sehat. Abis itu nyesel. Repeat.


-----------


Niatnya mau selesein semua tetek bengek per-KP-an pagi ini, siangnya rapat pleno, malemnya ONT.

aaaand

Semua rencana gagal. Cuma bisa berbaring di kasur.


Tuesday, 2 June 2015

Sepertinya saya akan mengulangi salah satu kesalahan terbesar saya di semester 2, and I'm just gonna blame myself all over again. Hiks. 

Ah sudahlah, nanti aja dipikirinnya. Mari ganti topik. Ohiya, mau ngingetin aja, pas maba berat gue gak nyampe 50 kg loh 
#justsoyouknow #lifeasengineeringundergradisprovedtohelpgainingweight

Akhir-akhir

Akhir-akhir ini hampir selalu pp ke rumah (pulomas). Capek sih, capek di jalan. Mau gak mau harus ngikutin arus orang2 kantor. Tapi setidaknya urang bisa beristirahat dari kemonotonan(?); ui - kalibata - ui - kalibata.

Akhir-akhir ini (sejak 3 hari yg lalu) urang jadi bisa rada ceria, karena akhirnya punya waktu juga untuk istirahat. Istirahat otak + batin dan sempet main dota sekurang2nya 6 jam sebagai bonus.

Akhir-akhir ini jadi suka iseng nyari jurnal tentang parenting. Bukan kode woiii, bukaan. Ini semua gara2 (entah kenapa) tiba2 inget dulu papa pernah beli buku judulnya 'Nanny 911', mengingat kondisi kerukunan urang jeung si ande yang sangat memprihatinkan. Terus sekarang jadi penasaran aja, siapa tau ada kiat2 antisipasi sejak dini(?)



Hello, daritadi ngomong kata 'akhir', padahal UAS belum berakhir weiiii. Bye.

Monday, 25 May 2015

yha gitu

--ditulis tanggal 24 Mei 2015 lalu, tepat satu hari sebelum UAS. Baru nyadar barusan kalo ternyata masih kesimpen di draft dan belum ke-post--



Poster-poster penyemangan UAS bertebaran di timeline. Mulai dari yang diedit pake hp sampe yang emang niat pake corel draw atau photoshop. Kalo dicermati lagi, kayaknya hampir semua lembaga di IKM bikin poster serupa.

Dari sekian banyak poster-poster--yang katanya penyemangat--itu, entah kenapa belum ada satupun yang 'nyangkut'. Maksudnya apa? Ya ibarat seketika si jempol melanjutkan scroll down, kata-kata penyemangat itu lewat begitu saja. Bahkan caption yang terlalu panjang dengan quotes yang belibet pun secara otomatis langsung gue skip.

Gue gak bakal memaparkan pendapat, analisis, atau apapun terkait ini, sih. Ini sekedar fakta aja. Fakta yang subjektif(?) 

Yang sebenernya harus refleksi itu gue sendiri. Kenapa dengan segitu banyak penuansaan--kalau bisa dibilang begitu--tapi tetep aja gak ada urge dari diri gue sendiri untuk sadar secara penuh kalau ini merupakan sebuah momen yang quite something. Persiapan gue gitu-gitu aja. In extreme, lebih kurang daripada persiapan gue kalo (cuma) mau kuis pas zaman maba. 

Sebenernya bisa jadi dua hal; (1) gue (sok2an) udah tau medan, alhasil jadi 'yaudahlah segitu aja juga udah cukup', (2) terlalu banyak hal (non-academically) yang menyita waktu dan energi gue di semester ini, yang menyebabkan gue jenuh pada satu titik. Sayangnya, timingnya kebetulan pas UAS.




Yaudah gitu aja bye.

Sunday, 24 May 2015

Finals are coming so quickly, yet i'm not sure if I've done enough to prepare for that. This semester was kind of a draw-back for me. Last semester was a high-pitch of mine, but now it's like I'm doing a free-fall.

well, enough with that saddy sad self-introspection. I have come up with a conclusion, anyway. I have not yet won against myself.

----------
now, what? sitting there, complaining over what already happened?

Wednesday, 13 May 2015

monster

Ketika diri ini sudah menjadi monster
Monster yang tidak punya akal, hanya punya nafsu dan insting sederhana
Di situlah aku butuh me-reset
Entah dgn cara apa, tapi sepertinya diri ini sudah tidak ingin lanjut




------
wtf am i saying?

Monday, 27 April 2015

Regina Spektor - The Call


It started out as a feeling
Which then grew into a hope
Which then turned into a quiet thought
Which then turned into a quiet word
And then that word grew louder and louder
'Til it was a battle cry
I'll come back when you call me
No need to say goodbye

Just because everything's changing
Doesn't mean it's never been this way before
All you can do is try to know who your friends are
As you head off to the war
Pick a star on the dark horizon and follow the light
You'll come back when it's over
No need to say goodbye
You'll come back when it's over
No need to say goodbye

Now we're back to the beginning
It's just a feeling and no one knows yet
But just because they can't feel it too
Doesn't mean that you have to forget
Let your memories grow stronger and stronger
'Til they're before your eyes
You'll come back when they call you
No need to say goodbye
You'll come back when they call you
No need to say goodbye

Wednesday, 8 April 2015

kamu

Aku rindu kamu
Ya, kamu
Kamu yang dulu selalu ada di sampingku
Yang cerewet
Yang suka ngomel
Ya, kamu

Sekarang semua sudah beda, ya?
Kamu sibuk dengan segala urusanmu
Aku pun begitu

Masing-masing dari kita punya tujuan yang berbeda, cita-cita yang berbeda
Tapi, kamu tetap mau, kan, berbagi kisah denganku?


=======
Iya gue tau it's so unlikely of me to write such thing HAHA yaudalah ya~

Monday, 19 January 2015

Laki-laki Pemecah Batu

Upik adalah seorang laki-laki pemecah batu. Pekerjaan ini berat, dan dia bekerja keras; tapi upahnya kecil dan dia tidak merasa puas. Dia mendesah karena kerjanya berat, lalu dia berteriak, 'Oh, seandainya saja aku kaya sehingga bisa beristirahat di atas balai-balai berkelambu.'

Lalu, turunlah malaikat dari surga dan berkata, 'Terjadilah seperti yang kau katakan.'

Lelaki itu menjadi kaya dan beristirahat di atas balai-balai berkelambu sutra merah.

Lalu, Raja negeri itu lewat, diiringi pengawal berkuda di depan dan di belakang keretanya. Payung emas nan indah menaungi sang Raja.

Begitu lelaki kaya tadi mendengar berita ini, dia merasa sedih karena tidak memayungi kepala-nya dengan payung emas, dan dia tidak merasa puas. Dia mendesah dan berteriak, 'Aku ingin menjadi raja.'

Lalu, turunlah malaikat dari surga dan berkata, 'Terjadilah seperti yang kau katakan.'

Dan, dia menjadi raja. Di depan keretanya ada banyak penunggang kuda, di belakang keretanya juga ada para penunggang kuda, dan payung emas memayungi kepalanya.

Lalu, matahari bersinar sangat garang dan membakar tanah sedemikian rupa sehingga rerumputan mengering.

Dan, Raja mengeluh karena matahari membakar wajahnya dan lebih berkuasa daripadanya; dan dia tidak merasa puas. Dia mendesah dan berteriak, 'Aku ingin menjadi matahari.'

Lalu, turunlah malaikat dari surga dan berkata, 'Terjadilah seperti yang kau katakan.'

Dan, dia menjadi matahari. Dia mengirimkan cahayanya ke atas dan ke bawah; ke kanan dan ke kiri--ke mana-mana.

Dan, dia membakar rerumputan di tanah, serta wajah para pangeran yang berada di bumi.

Lalu, muncullah awan di antara dirinya dan bumi, dan cahaya matahari terpantul kembali.

Dia marah karena kekuasaannya ditentang. Dia mengeluh bahwa awan ini lebih berkuasa daripadanya. Dia pun merasa tidak puas.

Dia ingin menjadi awan yang begitu berkuasa.

Lalu, turunlah malaikat dari surga dan berkata, 'Terjadilah seperti yang kau katakan.'

Dan, dia menjadi awan. Dia menempatkan dirinya di antara matahari dan bumi, dan menyerap cahaya matahari sehingga rerumputan menjadi hijau.

Lalu, awan itu berubah menjadi tetes-tetes besar hujan di bumi dan membuat sungai meluap, lalu banjir itu menyapu kawanan ternak.

Dan, awan itu merusak ladang dengan begitu banyak air.

Lalu, hujan jatuh di atas batu yang tidak bergerak dan bergemuruh dalam aliran deras, tapi batu itu tetap bergeming.

Awan itu pun marah karena batu itu tetap bergeming; dan karena kekuatan alirannya tidak berarti.

Dia tidak merasa puas.

Dia berterak, 'Batu ini lebih berkuasa daripadaku. Aku ingin menjadi batu ini.'

Lalu, turunlah malaikat dari surga dan berkata, 'Terjadilah seperti yang kau katakan.'

Dia menjadi batu dan tidak bergerak ketika matahari bersinar ataupun ketika hujan turun.

Lalu, datanglah seorang lelaki yang membawa beling, pahat tajam, serta palu besar, dan memecah batu.

Batu itu pun berkata, 'Apa ini? Lelaki itut lebih berkuasa daripadaku, dan memecah batu dari dadaku.'
Dan, dia merasa tidak puas.

Dia berteriak, 'Aku lebih lemah daripadanya, aku ingin menjadi lelaki itu.'

Lalu, turunlah malaikat dari surga dan berkata, 'Terjadilah seperti yang kau katakan.'

Dan, dia menjadi pemecah batu. Dia memecah batu dengan kerja keras dan dia bekerja keras untuk upah yang kecil. Dia merasa puas.



cerita Max Havelaar kepada Duclari, Verbrugge, dan Tine dalam buku Max Havelaar: Of the Coffee Auctions of the Dutch Trading Company

Thursday, 15 January 2015

3rd semester highlights

I realised that the last post in 2014 was in last semester's holiday, and the next post was in 2015 already, so I missed the whole 3rd semester. I decided to make a quick review about what happened on my 3rd semester (which happened to be my best semester so far), sooo here is my 3rd semester highlight:

one

I took 19 credits, 6 of them were lectured by prof S*t*p* which I honestly don't know whether it should be taken with gratefulness or disappointment. Ohiya, pas hari terakhir UAS, sekelas pada pake batik dan ngasih plakat gitu wkwkwk ngide abis tapi "berhasil" sih




two

Happily, I can say that I successfully increased my average GPA quite significantly last semester (after a really disappointing 2nd semester GPA), so I'm really happy :) anyway, one thing I learnt for sure during this semester; consistency does count!


three

I am now officially a kura-kura muda K*P* FTUI! I'm so proud of myself for being able to pass through every single thing at PAB. Starting from that freaking scary lapor moment at lapangan voli, having no food and trying to survive with the team, tidur sambil menggigil karena baju basah, tidur di bivak yang ancur, until the inauguration hahaha

four

I signed myself up to be a candidate of M*M FTUI 2015. To be honest I didn't know exactly what moved me to sign up at the first place. All I know is that I wanna be that one who rules and make some changes, but not the one who executes. Simply, I wanna be the brain, not the body (?) The idea hadn't even come up even until I finished making some requirement essays. Just about several days before ekplorasi, I eventually come up with the basic idea of why I signed myself up, and that really helped me to force myself to keep going (during those hard times).



.........(to be continued)



a day at home



I spent this whole day at home. Tumben ya, biasanya bolak-balik kampus ngurusin ini itu. Kebetulan emang lagi sakit hari ini. Suara habis. Kecapekan ngurus "kakak" a.k.a prof h*r* hermansy*h, perhaps? HAHAHA gak dengg

So today wasn't really productive, but that's okay. I'm on holiday after all :p but at least i didn't spend too much time on bed though. I still managed to do some house chores (dikit doang), while keeping in mind that this would help me burn some calories. But at the end of the day, i stepped on the scale, and my weight turned out to be........yagitudeh

Agak sedih.

but after all, I'm happy today. Life has always been something that everyone should be grateful for.

Tuesday, 13 January 2015

THIS


J-2.5

Post ini ditulis 2.5 jam sebelum gue (seharusnya) ketemu "kakak". Atau mungkin jadinya ketemu mas al* aja karena "kakak"-nya masih ngambek.......? Entahlah. Yang penting siapin mental aja dulu. Dan yang terpenting, be gentle and admit that I was wrong, ga usah mikirin pembelaan.


---sepotong pesan dari ketua komisi keuangan---

Salah itu biasa dan wajar kalo berhadapan sama bapake kok, sekretarisnya aja juga sering gitu hehe 😊
Yang penting kita tau dan sadar kalo kita salah, kita ngaku, minta maaf, dan gak kabur dari kesalahan itu 😊
Dan yang paling penting "...kalian mahasiswa itu masih boleh salah, yg penting jangan sampai ada dusta di antara kita..." --kakak, 12 jan 2014


Btw suara gue belum balik nih HELP

Friday, 9 January 2015

Menjaraklah sedikit.
Bukankah tanpa jarak, tak akan terjadi momen?
Bukankah tanpa jarak, tak akan terjadi gerak?
Jadi mari bergerak bersama,
tetap ciptakan momen bersama,
Sembari tetap menjaga jarak kita.


dikutip dari blog seorang teman, sebut saja Atika Widiastuti

Thursday, 8 January 2015

berlayar

Maha suci Engkau
Dunia ini bagaikan samudera tempat banyak ciptaan-ciptaan-Nya yang tenggelam
Maka jelajahilah dunia ini dengan menyebut nama Allah

Jadikan ketakutanmu pada Allah sebagai kapal-kapal yang menyelamatkanmu
Kembangkanlah keimanan sebagai layarmu, logika sebagai pendayung kapalmu, ilmu pengetahuan sebagai jangkar dalam setiap badai dan cobaan

(Ali bin Abi Thalib ra)


pesan dari seorang teman di wa pada pagi hari di hari jumat

Saturday, 3 January 2015

first post in 2015

Hello, January!
Soooo, this is the first post in 2015, i suppose. Nothing's different though :))

To be honest I don't know exactly what to write, but since I have quite much free time, so I decided to open this blog and try to write something. Until these fingers are about to finish typing this sentence, there's still nothing popping up inside my mind, anyway. So, let's just leave this page for a while, open a new tab, and play pottermore ;)

===========================

5.47 PM
Anyway, I'm on my day off from academic life. But it feels like last semester hasn't finished yet because my scores aren't completely published yet. Few days ago, my GP or IP showed one single beautiful number, something I called as a 'perfection'. But unfortunately, yesterday, another score was published and it RUINED that beautiful number :'(

Baper.

Speaking of my academic life, last semester (which is my 3rd semester) was kind of my best semester so far. The main reason is that because there's no longer MKDT (mata kuliah dasar teknik) subjects huahahaha. I'm starting to study subjects referring to the core competence which is metallurgical and materials engineering, so things are getting more interesting and harder, but somehow applicable.