Wednesday, 30 December 2015

Sejarah

Semenjak saya masuk semester 1 di fakultas teknik, justru di situlah rasa ketertarikan saya terhadap ilmu sosial muncul. Lebih spesifik lagi, yaitu ilmu sejarah. Saya juga tidak tahu kenapa, mengingat dulu waktu sekolah sejak SD sampai SMA, saya takut sekali dengan pelajaran sejarah karena mewajibkan saya untuk banyak menghafal.

Semua ketertarikan itu berawal ketika saya datang ke perpustakaan pusat pada minggu ke-2 saya sebagai maba, dan menemukan sebuah buku bersampul biru terletak di meja di depan saya. Buku tersebut berjudul ‘GERPOLEK’ karya Tan Malaka. Entah apa yang merasuki saya, saya langsung melahap buku tersebut saat itu juga.

Pada akhirnya saya mencari rak buku di mana buku GERPOLEK tersebut seharusnya disimpan, berdasarkan nomor registrasi yang tertera di buku tersebut (berbekal ilmu waktu OBM). Dari situ, karena tertarik juga dengan isi buku tersebut, saya mencari buku-buku lain karangan Tan Malaka di area rak buku sekitar situ.

Singkat cerita, di semester 1 itu saya semakin rajin datang ke perpusat. Karena belum menemukan teman yang punya ketertarikan yang sama, saya memilih untuk pergi sendiri. Biasanya sesudah kelas di siang hari, sambil menunggu agenda mabim pada malam hari (omg I feel old writing this haha).
Dari sejarahnya, Tan Malaka sendiri berada di pihak oposisi jika disandingkan dengan tokoh-tokoh revolusi lainnya seperti Soekarno, Hatta, dan Sjahrir. Maka dari itu, saya menjadi semakin tertarik membaca buku-buku lainnya yang mengandung ideologi-ideologi yang bertentangan dengan Tan Malaka.

Ya, itulah awal mula saya menyukai ilmu sejarah. Saya menemukan betapa tidak eksaknya ilmu sejarah. Secara teori, perbedaan mendasar antara ilmu sejarah dengan ilmu eksakta atau ilmu alam sendiri adalah sifat pengulangannya, di mana ilmu alam selalu mempunyai pattern dan keteraturan, sedangkan sejarah itu bersifat unik atau partikularistik. Nah, itulah yang bikin menarik.

Penasaran juga bagaimana para sejarawan dapat mengkonstruksi sebuah cerita sejarah, kemudian menuliskannya kembali, berdasarkan bukti-bukti yang ada, yang bisa saja;
merupakan dokumen-dokumen lama yang sudah usang,
merupakan dokumen-dokumen terlarang yang hanya boleh dibaca orang-orang tertentu,
ditulis menggunakan tulisan tangan, atau mungkin
menggunakan bahasa-bahasa dan istilah-istilah lama yang sudah tidak digunakan lagi.

Hingga saat ini, saya masih menganggap sejarah merupakan disiplin ilmu yang menarik. Dan ternyata, sejarah itu luas sekali. Jangankan sejarah dunia, sejarah Indonesia saja jika dirunut dari masa-masa kerajaan, kolonialisme, pra-kemerdekaan, kemerdekaan, hingga pasca kemerdekaan pun seperti tidak ada habisnya (kemana aja gue selama ini?)

Sunday, 27 December 2015

19 years of my life in 19 paragraphs

Sebagian besar hidup gue, gue habiskan di kota kecil di ketinggian hampir 2000 m dpl, di ujung timur Indonesia, Papua, setelah sebelumnya, gue numpang lahir di Bandung, di rumah sakit kecil yang bakal selalu dilewatin kalo mau ke PVJ.

Masa-masa selama di Papua bisa dibilang adalah masa-masa terindah hidup gue. Adek gue juga mengakui hal itu. Hidup dengan udara bersih, tanpa macet, dikelilingi oleh pegunungan dan hutan lebat. Dan percayalah, di kota tersebut lo bisa memandang awan sambil menunduk, bukan mendongak. Ya, posisi awannya ada di bawah. 

       Selama 14 tahun hidup di sana, gue sempet 3+1 kali pindah rumah, tapi tetep di dalam kota tersebut, hingga akhinya gue menetap di tumah terakhir gue, rumah terpewe, layaknya rumah idaman yang terealisasi. Gue punya banyak spot-spot tersembunyi di rumah itu. Spot di mana gue bisa menenangkan diri, berhayal, dan melakukan hal-hal aneh dan menyenangkan sendirian. Emang dasar introvert. 

Dari playgroup (sebelum TK) sampai SMP gue habiskan di sekolah satu-satunya yang ada di kota tersebut. Teman-teman gue pun rata-rata begitu, jadi kalau digeneralisasi temen-temen SMP gue adalah temen-temen gue dari TK. Masa-masa sekolah berlalu begitu cepat, kalo dibayangin sekarang. Tapi gue bersyukur masih bisa mengingat momen-momen indah di setiap tahun yang gue lewati #yea.

Di sana, gue hidup di antara kemajemukan. Beragam suku bangsa, ras, dan agama ada di sana, karena selain orang-orang asli Papua, banyak juga pendatang dari penjuru Indonesia. Tinggal di tempat di mana gue adalah bagian dari minoritas pun cukup mengajarkan gue tentang toleransi, tapi di satu sisi juga menguatkan aqidah gue (insya Allah). Ya intinya, gue jadi mengerti apa itu toleransi yang sebenarnya, yaitu bukan dengan mencampur aduk aqidah ataupun menghakimi dan menjustifikasi satu sama lain, seperti yang sekarang justru marak terjadi. Yasudah, gausah bahas itu daripada debat. Ehm.

Dulu, dari awal SD sampe lulus SMP, gue punya kegiatan rutin mingguan yaitu les piano, bareng Ria, Uli, Almarhumah Een, Dika, dan beberapa temen-temen satu sekolah lainnya yang gak seangkatan. Sempet beberapa kali recital juga.

Selain itu, gue juga punya agenda rutin mingguan yang selalu bikin excited yaitu pergi ngaji ke rumah guru ngaji (bukan ke masjid). Kenapa excited? Karena sambil nunggu giliran lo ngaji, lo bisa main-main di halaman rumah gurunya atau main di sungai deket situ. 

Datanglah semester terakhir gue di SMP, di mana semua temen seangkatan gue galau. Kenapa? Karena lulus SMP, semuanya harus keluar dari kota kecil nan indah tersebut, kalau mau melanjutkan pendidikan ke SMA. Ada yang kembali ke kampung halaman bersama orang tuanya, ada juga yang merantau sendiri, salah satunya gue. Gue melanjutkan SMA di Bandung (lebih tepatnya Lembang). Gue dan orang tua memilih sekolah berasrama karena gak enak kalau nitipin gue di nenek yang di Bandung. Seinget gue sih gitu pertimbangannya, selain supaya gue belajar mandiri dan blablablabla.

2011 gue lulus SMP, di tahun itu juga gue merantau ke Bandung. Beradaptasi ternyata gak gampang. Awal-awal gue tinggal di Bandung, gue bersusah payah menyesuaikan diri dengan budaya sunda di sekitar. Bahasa, logat, tutur kata, tingkah, bahkan hal-hal kecil kayak ‘nunjuk pake jempol’ pun coba gue pelajari. Susah sih, jujur. Ya bayangin aja budaya Papua dan Sunda itu tidak banyak beririsan.

Desember 2011, sebuah kejadian traumatis menimpa keluarga gue, yang kemudian menjadi salah satu pendorong utama orang tua untuk memutuskan pindah ke Jakarta pada pertengahan 2012, setelah di-trigger oleh kejadian serupa di pertengahan 2009. Hingga sekarang, orang tua masih tinggal di Jakarta.

Selama SMA, gue gak banyak beraktivitas di luar hal akademis, dikarenakan gue masuk akselerasi dan sempet beberapa kali jadi delegasi sekolah untuk olimpiade matematika. Ya, matematika, matpel yang justru pernah bikin gue mogok sekolah waktu SMP. Yah, meskipun jarang jauh dari buku, tapi gue merasa gue belajar banyak tentang ‘what is life and what is life supposed to be like’ waktu SMA.

Waktu SMA juga gue mulai melihat dunia luar. Setelah 14 tahun hidup di (literally) belantara hutan dan pegunungan (well, tetep ada internet kok) akhirnya gue ke kota. Jujur, awalnya gue stress, terutama dengan kondisi lalu lintasnya yang semrawut dan padat. Gue bahkan baru bisa nyebrang jalan sendirian setelah sekian bulan tinggal di Bandung. Tapi di satu sisi, gue bersyukur karena akhirnya mata gue terbuka tentang bagaimana hidup sebenarnya, karena bisa dibilang hidup gue selama di Papua itu terlalu indah layaknya fairytale. Dengan kata lain, di masa SMA inilah awal mula gue ditempa.

Sampai awal tahun terakhir di SMA, di kepala gue masih terbayang bahwa gue akan melanjutkan studi di sekolah penerbangan, dan gak lama dari situ gue akan jadi pilot. Namun takdir berkata lain. Karena masalah keterbatasan fisik yang gak bisa diapa-apain lagi dan beberapa faktor eksternal lainnya, akhirnya gue pun menjalani apa yang teman-teman gue jalani; masuk universitas.

Kalau dirunut ceritanya kenapa gue bisa berakhir kuliah di sini, di jurusan ini, agak bingung juga. Kalau diinget-inget, semua proses terasa begitu cepat, kayak ada yang nyetir gue. Yang gue inget adalah justru betapa stressnya gue mempersiapkan UN biologi, karena itu merupakan titik terlemah gue. Entahlah, Allah Maha Hebat dalam membuat skenario.

Sekarang gue sedang liburan semester 5, 2 bulan lagi akan masuk semester 6. Gak kerasa, nyet. Kadang kalo ditanya, ‘semester berapa?’ gue suka jadi panik sendiri -_- Hm, selama 5 semester di kampus, gue cukup banyak (atau terlalu banyak?) beraktivitas. Kadang gue kangen mager-mageran di rumah. Tapi, pengennya di rumah yang di Papua hehehehehehheheh gakdeng. Intinya, gue bersyukur bisa punya kesempatan untuk banyak belajar selama di kampus ini, baik hal akademis maupun non akademis. Gue juga sangat berterima kasih pada orang-orang hebat yang gue temuin selama di kampus. I learnt a lot from you guys!

Selama kuliah, gue tinggal di apartemen mungil dengan luas seperenam dari luas rumah gue sebelumnya, menempuh waktu 20 menit untuk pulang-pergi ke kampus mengunakan KRL Commuter line. 

Banyak hal-hal yang terjadi selama gue tinggal di Jakarta, dan semua itu bikin gue semakin kangen sama Papua. Hingga akhirnya, rasa kangen itu terobati waktu gue Kerja Praktek di semester kemaren. Walaupun ketika itu gue tinggal di tempat yang sedikit berbeda dan bertujuan untuk melakukan kegiatan yang amat berbeda, seketika gue menginjakkan kaki di sana, gue nangis. Dramatis abis, tapi gue beneran menitihkan air mata seketika gue nyampe Papua. Plis jgn ketawa.

Pada akhirnya, ketika melihat ke belakang, bersyukur adalah hal yang paling tepat, ya. Allah dengan segala skenarionya memang gak bisa ada yang ngalahin. Selama perjalannya, pasti ada naik dan turun. Tetapi ketika kita melihat itu semua ke belakang, rasanya indah sekali :)

Oke, I’m not that capable of creating a good ‘ending’. So maybe that’s it, 19 years of my life in 19 paragraphs.

Wednesday, 23 December 2015

ikhlas

Sedikit cerita tentang apa yang terjadi hari Jumat, 11 Desember 2015 lalu di gedung dekanat lantai 2, di bagian keuangan..

Usai UAS siang itu, Gue dan Fadli sedang merapikan sejumlah uang (bantuan dana dekanat) yang baru aja cair, menghitung ulang nominal-nominalnya, memisahkan berdasarkan jatah masing-masing pengaju, merekap data, dll. Sebenernya gue udah demisioner dari tanggal 4 Desember, tapi masalah pencairan dana ini memang belum selesai semuanya, dan gak mungkin gue lepas tangan dan menurunkan begitu saja ke Komisi keuangan 2016.

“Semoga kuliah kalian dilancarkan, ya. Udah mau capek-capek ngerjain ini semua, lagi UAS pula, bahkan digaji pun nggak", kata Mbak Dewi, salah satu staf keuangan dekanat yang bersangkutan.

“Biasanya kalau diberi sesuatu yang berat di satu bagian, bagian lain dimudahkan. Insya Allah kuliah dan ujian-ujian kalian diberi kemudahan, ya," lanjut Mbak Dewi.

Jleb. Hati gue semacam ditohok (atau apapun bahasanya). Di satu sisi hati gue berteriak meng-‘aamiin’-kan doa Mbak Dewi tadi. Tapi di satu sisi gue juga bertanya-tanya; sudah seikhlas apa gue melakukan ini semua sehingga pantas untuk dimudahkan di urusan lainnya?

Tuesday, 22 December 2015

mother's day?

Looking over today’s all social media timeline, I think many people have misled and misunderstood today’s term of ‘Mother’s Day’. Historically, today was the day when the first Kongres Perempuan Indonesia was held in Yogyakarta, 1928. The congress itself was meant to escalate women’s right towards education and marriage. Then, in 1959, Soekarno officially released a presidential decree regarding today's national day (you can search about it further over the internet). So simply, it’s actually not about that mother-thingy at the beginning.

BUT ANYWAY, I don’t actually judge those people who posted about their photos with their moms. I’ll never will, because nothing is wrong with that. Let’s just don’t argue about that.


One thing that I basically want to point out here; just let everyday be mother’s day, where you should always give her your best, give her everything you got, everyday :)

Saturday, 12 December 2015

hey, you..

Kamu tidak banyak bicara. Tapi aku tahu kamu bukannya tidak peduli, melainkan caramu peduli memang berbeda. Itu kelebihanmu.

Sebetulnya, kita memiliki kesamaan. Ya, dalam hal mengutarakan pikiran. Aku tahu kamu berpikir banyak tentang suatu hal. Aku pun begitu. Tetapi kamu tidak tahu kepada siapa kamu harus mengungkapkan pikiranmu itu, dan bagaimana kamu mengungkapkannya. Aku pun begitu.

Lalu, seharusnya bagaimana?


Aku pun tidak benar-benar bisa menjawabnya. Kamu pun begitu. Walaupun sebenarnya hati ini sedikit tahu, tetapi memilih untuk pura-pura tidak tahu. Tetapi satu hal yang kutahu; kamu pun begitu