Semenjak saya masuk semester 1 di fakultas
teknik, justru di situlah rasa ketertarikan saya terhadap ilmu sosial muncul.
Lebih spesifik lagi, yaitu ilmu sejarah. Saya juga tidak tahu kenapa, mengingat
dulu waktu sekolah sejak SD sampai SMA, saya takut sekali dengan pelajaran
sejarah karena mewajibkan saya untuk banyak menghafal.
Semua ketertarikan itu berawal ketika saya
datang ke perpustakaan pusat pada minggu ke-2 saya sebagai maba, dan menemukan
sebuah buku bersampul biru terletak di meja di depan saya. Buku tersebut
berjudul ‘GERPOLEK’ karya Tan Malaka. Entah apa yang merasuki saya, saya langsung
melahap buku tersebut saat itu juga.
Pada akhirnya saya mencari rak buku di mana
buku GERPOLEK tersebut seharusnya disimpan, berdasarkan nomor registrasi yang
tertera di buku tersebut (berbekal ilmu waktu OBM). Dari situ, karena tertarik
juga dengan isi buku tersebut, saya mencari buku-buku lain karangan Tan Malaka
di area rak buku sekitar situ.
Singkat cerita, di semester 1 itu saya
semakin rajin datang ke perpusat. Karena belum menemukan teman yang punya
ketertarikan yang sama, saya memilih untuk pergi sendiri. Biasanya sesudah
kelas di siang hari, sambil menunggu agenda mabim pada malam hari (omg I feel
old writing this haha).
Dari sejarahnya, Tan Malaka sendiri berada
di pihak oposisi jika disandingkan dengan tokoh-tokoh revolusi lainnya seperti
Soekarno, Hatta, dan Sjahrir. Maka dari itu, saya menjadi semakin tertarik membaca
buku-buku lainnya yang mengandung ideologi-ideologi yang bertentangan dengan
Tan Malaka.
Ya, itulah awal mula saya menyukai ilmu
sejarah. Saya menemukan betapa tidak
eksaknya ilmu sejarah. Secara teori, perbedaan mendasar antara ilmu sejarah
dengan ilmu eksakta atau ilmu alam sendiri adalah sifat pengulangannya, di mana
ilmu alam selalu mempunyai pattern dan keteraturan, sedangkan sejarah itu
bersifat unik atau partikularistik. Nah, itulah yang bikin menarik.
Penasaran juga bagaimana para sejarawan
dapat mengkonstruksi sebuah cerita sejarah, kemudian menuliskannya kembali,
berdasarkan bukti-bukti yang ada, yang bisa saja;
merupakan dokumen-dokumen lama yang sudah usang,
merupakan dokumen-dokumen terlarang yang
hanya boleh dibaca orang-orang tertentu,
ditulis menggunakan tulisan tangan, atau
mungkin
menggunakan bahasa-bahasa dan
istilah-istilah lama yang sudah tidak digunakan lagi.
Hingga saat ini, saya masih menganggap
sejarah merupakan disiplin ilmu yang menarik. Dan ternyata, sejarah itu luas
sekali. Jangankan sejarah dunia, sejarah Indonesia saja jika dirunut dari masa-masa
kerajaan, kolonialisme, pra-kemerdekaan, kemerdekaan, hingga pasca kemerdekaan
pun seperti tidak ada habisnya (kemana aja gue selama ini?)

No comments:
Post a Comment