Sebagian besar hidup gue, gue habiskan di kota kecil di ketinggian hampir 2000 m dpl, di ujung timur Indonesia, Papua, setelah sebelumnya, gue numpang lahir di Bandung, di rumah sakit kecil yang bakal selalu dilewatin kalo mau ke PVJ.
Masa-masa selama di Papua bisa dibilang adalah masa-masa terindah hidup gue. Adek gue juga mengakui hal itu. Hidup dengan udara bersih, tanpa macet, dikelilingi oleh pegunungan dan hutan lebat. Dan percayalah, di kota tersebut lo bisa memandang awan sambil menunduk, bukan mendongak. Ya, posisi awannya ada di bawah.
Selama 14 tahun hidup di sana, gue sempet 3+1 kali pindah rumah, tapi tetep di dalam kota tersebut, hingga akhinya gue menetap di tumah terakhir gue, rumah terpewe, layaknya rumah idaman yang terealisasi. Gue punya banyak spot-spot tersembunyi di rumah itu. Spot di mana gue bisa menenangkan diri, berhayal, dan melakukan hal-hal aneh dan menyenangkan sendirian. Emang dasar introvert.
Selama 14 tahun hidup di sana, gue sempet 3+1 kali pindah rumah, tapi tetep di dalam kota tersebut, hingga akhinya gue menetap di tumah terakhir gue, rumah terpewe, layaknya rumah idaman yang terealisasi. Gue punya banyak spot-spot tersembunyi di rumah itu. Spot di mana gue bisa menenangkan diri, berhayal, dan melakukan hal-hal aneh dan menyenangkan sendirian. Emang dasar introvert.
Dari playgroup (sebelum TK) sampai SMP gue habiskan di sekolah satu-satunya yang ada di kota tersebut. Teman-teman gue pun rata-rata begitu, jadi kalau digeneralisasi temen-temen SMP gue adalah temen-temen gue dari TK. Masa-masa sekolah berlalu begitu cepat, kalo dibayangin sekarang. Tapi gue bersyukur masih bisa mengingat momen-momen indah di setiap tahun yang gue lewati #yea.
Di sana, gue hidup di antara kemajemukan. Beragam suku bangsa, ras, dan agama ada di sana, karena selain orang-orang asli Papua, banyak juga pendatang dari penjuru Indonesia. Tinggal di tempat di mana gue adalah bagian dari minoritas pun cukup mengajarkan gue tentang toleransi, tapi di satu sisi juga menguatkan aqidah gue (insya Allah). Ya intinya, gue jadi mengerti apa itu toleransi yang sebenarnya, yaitu bukan dengan mencampur aduk aqidah ataupun menghakimi dan menjustifikasi satu sama lain, seperti yang sekarang justru marak terjadi. Yasudah, gausah bahas itu daripada debat. Ehm.
Dulu, dari awal SD sampe lulus SMP, gue punya kegiatan rutin mingguan yaitu les piano, bareng Ria, Uli, Almarhumah Een, Dika, dan beberapa temen-temen satu sekolah lainnya yang gak seangkatan. Sempet beberapa kali recital juga.
Selain itu, gue juga punya agenda rutin mingguan yang selalu bikin excited yaitu pergi ngaji ke rumah guru ngaji (bukan ke masjid). Kenapa excited? Karena sambil nunggu giliran lo ngaji, lo bisa main-main di halaman rumah gurunya atau main di sungai deket situ.
Datanglah semester terakhir gue di SMP, di mana semua temen seangkatan gue galau. Kenapa? Karena lulus SMP, semuanya harus keluar dari kota kecil nan indah tersebut, kalau mau melanjutkan pendidikan ke SMA. Ada yang kembali ke kampung halaman bersama orang tuanya, ada juga yang merantau sendiri, salah satunya gue. Gue melanjutkan SMA di Bandung (lebih tepatnya Lembang). Gue dan orang tua memilih sekolah berasrama karena gak enak kalau nitipin gue di nenek yang di Bandung. Seinget gue sih gitu pertimbangannya, selain supaya gue belajar mandiri dan blablablabla.
2011 gue lulus SMP, di tahun itu juga gue merantau ke Bandung. Beradaptasi ternyata gak gampang. Awal-awal gue tinggal di Bandung, gue bersusah payah menyesuaikan diri dengan budaya sunda di sekitar. Bahasa, logat, tutur kata, tingkah, bahkan hal-hal kecil kayak ‘nunjuk pake jempol’ pun coba gue pelajari. Susah sih, jujur. Ya bayangin aja budaya Papua dan Sunda itu tidak banyak beririsan.
Desember 2011, sebuah kejadian traumatis menimpa keluarga gue, yang kemudian menjadi salah satu pendorong utama orang tua untuk memutuskan pindah ke Jakarta pada pertengahan 2012, setelah di-trigger oleh kejadian serupa di pertengahan 2009. Hingga sekarang, orang tua masih tinggal di Jakarta.
Selama SMA, gue gak banyak beraktivitas di luar hal akademis, dikarenakan gue masuk akselerasi dan sempet beberapa kali jadi delegasi sekolah untuk olimpiade matematika. Ya, matematika, matpel yang justru pernah bikin gue mogok sekolah waktu SMP. Yah, meskipun jarang jauh dari buku, tapi gue merasa gue belajar banyak tentang ‘what is life and what is life supposed to be like’ waktu SMA.
Waktu SMA juga gue mulai melihat dunia luar. Setelah 14 tahun hidup di (literally) belantara hutan dan pegunungan (well, tetep ada internet kok) akhirnya gue ke kota. Jujur, awalnya gue stress, terutama dengan kondisi lalu lintasnya yang semrawut dan padat. Gue bahkan baru bisa nyebrang jalan sendirian setelah sekian bulan tinggal di Bandung. Tapi di satu sisi, gue bersyukur karena akhirnya mata gue terbuka tentang bagaimana hidup sebenarnya, karena bisa dibilang hidup gue selama di Papua itu terlalu indah layaknya fairytale. Dengan kata lain, di masa SMA inilah awal mula gue ditempa.
Sampai awal tahun terakhir di SMA, di kepala gue masih terbayang bahwa gue akan melanjutkan studi di sekolah penerbangan, dan gak lama dari situ gue akan jadi pilot. Namun takdir berkata lain. Karena masalah keterbatasan fisik yang gak bisa diapa-apain lagi dan beberapa faktor eksternal lainnya, akhirnya gue pun menjalani apa yang teman-teman gue jalani; masuk universitas.
Kalau dirunut ceritanya kenapa gue bisa berakhir kuliah di sini, di jurusan ini, agak bingung juga. Kalau diinget-inget, semua proses terasa begitu cepat, kayak ada yang nyetir gue. Yang gue inget adalah justru betapa stressnya gue mempersiapkan UN biologi, karena itu merupakan titik terlemah gue. Entahlah, Allah Maha Hebat dalam membuat skenario.
Sekarang gue sedang liburan semester 5, 2 bulan lagi akan masuk semester 6. Gak kerasa, nyet. Kadang kalo ditanya, ‘semester berapa?’ gue suka jadi panik sendiri -_- Hm, selama 5 semester di kampus, gue cukup banyak (atau terlalu banyak?) beraktivitas. Kadang gue kangen mager-mageran di rumah. Tapi, pengennya di rumah yang di Papua hehehehehehheheh gakdeng. Intinya, gue bersyukur bisa punya kesempatan untuk banyak belajar selama di kampus ini, baik hal akademis maupun non akademis. Gue juga sangat berterima kasih pada orang-orang hebat yang gue temuin selama di kampus. I learnt a lot from you guys!
Selama kuliah, gue tinggal di apartemen mungil dengan luas seperenam dari luas rumah gue sebelumnya, menempuh waktu 20 menit untuk pulang-pergi ke kampus mengunakan KRL Commuter line.
Banyak hal-hal yang terjadi selama gue tinggal di Jakarta, dan semua itu bikin gue semakin kangen sama Papua. Hingga akhirnya, rasa kangen itu terobati waktu gue Kerja Praktek di semester kemaren. Walaupun ketika itu gue tinggal di tempat yang sedikit berbeda dan bertujuan untuk melakukan kegiatan yang amat berbeda, seketika gue menginjakkan kaki di sana, gue nangis. Dramatis abis, tapi gue beneran menitihkan air mata seketika gue nyampe Papua. Plis jgn ketawa.
Pada akhirnya, ketika melihat ke belakang, bersyukur adalah hal yang paling tepat, ya. Allah dengan segala skenarionya memang gak bisa ada yang ngalahin. Selama perjalannya, pasti ada naik dan turun. Tetapi ketika kita melihat itu semua ke belakang, rasanya indah sekali :)
Oke, I’m not that capable of creating a good ‘ending’. So maybe that’s it, 19 years of my life in 19 paragraphs.
No comments:
Post a Comment