Dari apa yang gue baca melalui tulisan-tulisan itu, sejujurnya gue gak ngerti apa yang ada di kepala seorang Ahadya yang berumur sekitar 8 tahun pada saat itu, karena cerpen2 dan puisinya……………absurd. Bukan absurd sih, ya, aneh aja. Nih gue coba type ulang salah satu cerpennya. Naskah asli, tanpa suntingan.
Pada suatu hari, ada seorang anak. Dia bernama Pipil. Dia adalah anak seorang koruptor yang sangat kaya. Tetapi, keluarganya tidak tahu bahwa ayahnya adalah koruptor. Maka, mereka tenang-tenang saja.
Pada hari Rabu, Pipil sakit pilek. Tetapi, dia malas membersihkannya. Mentang-mentang dia kaya. Akhirnya, ingusnya mengering. Jadilah upil. Meskipun sudah begitu, dia tetap tidak mau membersihkannya. Sampai-sampai, teman-temannya jijik melihatnya, mendekatipun tidak mau.
Pada suatu sore, Pipil dan keluarganya sedang santai bareng. Tiba-tiba, datang banyak polisi ke rumahnya. Bapaknya langsung panik. Lalu dia pura-pura tidak tahu.
“Wah, ada apa ini?” kata bapak pura-pura tidak tahu.
“Tidak ada basa-basi! Angkat tangan!” kata polisi dengan keras.
Dengan rasa panik, Bapak menjawab sambil mengangkat tangan, “Memangnya saya kenapa?!”
“Bapak adalah koruptor! Bapak sedang dicari-cari oleh polisi,” kata pak polisi dengan keras dan suaranya membuat orang ketakutan. Tiba-tiba, Pupil langsung sadar ternyata uang yang banyak itu adalah hasil korupsi. Tanpa berpikir panjang, dia langsung ingat akan upilnya yang menjijikkan. Akhirnya dia pura-pura jalan mendekati polisi. Polisi pun langsung menoleh kepadanya dan langsung mundur karena jijik pada upilnya. Polisi-polisi pun dikejar-kejar sampai capek. Dan akhirnya, polisi-polisi itu langsung melempar pistolnya dan berlari kabur. Lalu bapaknya meminta maaf pada semua dan akan menanggung ganti ruginya sendiri. Untungnya Pupil sadar. Dan kini, dia langsung membersihkan isi hidungnya yang penuh.
Apa yang ada di pikiran gue saat itu? Bisa-bisanya gue menggabungkan dua poin yaitu ‘koruptor’ dan ‘upil’ dalam satu tulisan.
Dan berikut salah satu puisi yang gue tulis, judulnya ‘Gigi yang Sehat’
Gigi…
Kau berada di dalam mulutku
Kau tak pernah mengeluh bila
Aku beri makanan yang pedas
Maupun tidak enak
Gigi…
Bila engkau taka ada
Aku tak bisa makan
Maupun berbicara
Gigi…
Engkau harus kurawat setiap hari
Dan bila gigiku copot
Aku akan menyimpannya
---
Well, apart from my extreme absurdity, I think I should be proud with the fact that I used to be able to write stories since I was so little, right? Justru harusnya gue introspeksi diri kenapa sekarang kalau disuruh nulis esai pake Bahasa Indonesia yang baik dan benar suka langsung mandek. Satu hal lagi, my handwriting was still considered neat back then :” I don’t know what happened to me that made me end up with today's unforgivably messy handwriting.