Tahun ini gue lebaran di palembang, setelah tahun kemaren lebaran sendiri di korea. Berangkatnya hari H, biar gak heboh2 amat gitu mudiknya. Sekarang masih di palembang, kemungkinan sampe tgl 20.
Seperti biasa, gue berangkat sholat eid sekeluarga, dan pulangnya misah2 antara cewe dan cowo karena gak bisa menemukan satu sama lain di antara kerumunan org2.
Seperti biasa, abis sholat kita makan. Gue berusaha gak nambah ketupat, tapi yha gmn ya agak susah gitu.
Seperti biasa, abis itu org2 sibuk sama hpnya masing2 hahaha. Gue sendiri jg, japri2 orang2 buat ngucapin selamat dan minta maaf. Personally, gue memilih untuk japri ke orang satu per satu dan ngetik sesuai apa yg ingin disampaikan ke org tersebut instead of ngirim broadcast. Krn yg ingin disampaikan ke tiap org pasti beda dong yaaa
Seperti biasa, gue gak pernah foto keluarga. Entah ini tradisi sejak kapan, tapi gue gak inget kapan terakhir kali keluarga gue mengabadikan momen bareng pas lebaran. Pengen gitu ya sekali2 posting foto sekeluarga bareng2 tp apa daya lah gue😂
Seperti biasa, gue cemilin kue lebaran. Kalo lagi gaada tamu lain, toplesnya gue pangku, trs duduk di sofa. Everybody does this, doesn't it?
Intinya lebaran kali ini gak jauh beda sama lebaran2 sebelumnya (kecuali tahun 2017 dan 2015).
Penyesalan pun masih ada aja. Penyesalan karena blm berbuat banyak selama ramadhan kemaren. Penyesalan karena udh menyia2kan waktu terbaik yg Allah kasih. Gitu terus muter2 tiap tahun. Mungkin bedanya tahun ini terasa lebih nyesel. Huhu :( upgrade ruhiyah dong upgradeee adyaaaa oiiii-_-
Ya bismillah, semoga dosa2 yg berusaha ditinggalkan di bulan ramadhan kemaren bisa ditinggalin sepenuhnya di bulan2 ke depannya. Ya walaupun godaan pasti akan datang, tp ya.....lurusin niat dulu deh :)))) yegak...
Friday, 15 June 2018
Thursday, 7 June 2018
about consistency
[ngabuburit-sambil-cerita series]
Jadi udah beberapa bulan ini gue jualan brownies bakar. Awal mulanya gue cuma bikin-bikin kue dalam rangka nyari kegiatan biar gak stress karena gabut. Tapi lama-lama gue mikir, semakin banyak gue masak, akan semakin banyak gue makan. makin melar lah gue. wkwk gakdeng, concern utama gue sebenernya konsumsi gula yang akan terus-terusan.
mulai lah gue coba untuk jualin. gue tetep berkegiatan, gak terus2an makan, dapet duit pula kan wkkwkw. kenapa brownies? sebenernya gaada alasan khusus. gue cuman ngerasa aja brownies bikinan gue lebih enak daripada brownies2 lain yang pernah gue beli WKWKKWKW (tidak ada survey pasar, hanya penilaian yang sangat subjektif dan super pede)
seperti strategi jualan gue yang udah-udah (mungkin lain kali gue cerita), gue fokus ke nyari reseller yang strategis. karena gue sadar skill sales and marketing gue kurang oke, makanya akan lebih baik jika gue mendelegasikan tugas ini ke orang lain yg udah punya pasar tersendiri.
dan kali ini penugasan gue jatuh kepada nyokap gue :"D
jadi gue bikin poster ala-ala pake tools ig story (HAHAHHA) terus gue minta tolong nyokap buat share ke grup-grup ibu-ibu yg ada di whatsappnya. terus kalo nyokap mau ada arisan atau acara, gue bekelin tester buat dicobain sama buibu lainnya. simple right?
tapi ternyata, the power of emak-emak, it was like a tipping point. that strategy works so effectively :") order pun unexpectedly berdatangan. i'm so thankful! lesson learned; never underestimate the power of emak2 heheheheh
---
skill keteknikan yang gue dapet di kuliah ternyata ada gunanya.
daripada baca buku resep yang isinya kalimat-kalimat perintah dan narasi, resepnya gue coba bikin kayak flowchart gitu. lengkap dengan takaran2 dan satuannya, yang bisa di-adjust sesuai demand. jadi tinggal sesuain inputnya aja kwkwkwkw.
terus untuk hitung bahan baku dan modal, gue bikin mass balance yang diintegrasi sama tabel harga beli bahan baku untuk kalkulasi harga. ini menurut gue sangat membantu, jadi misalnya ada request khusus pengen gulanya dikurangin atau gimana, gue tinggal input berapa persen pengurangan, terus angka-angka di tabel tadi langsung berubah menyesuaikan, begitupun dengan total harga modal. karena bahan baku yang harganya cukup fluktuatif (esp. telur dan gula), gue juga bisa ngedata berapa keuntungan gue secara pasti dari tiap batch hanya dengan menginput ke tabel tersebut (intinya begitu lah ya, agak rempong jelasinnya wkwkkwwk).
---
kembali ke judul, about consistency. sejauh ini, ini merupakan tantangan terbesar gue dalam memproduksi makanan.
kalo menurut prinsip 6 sigma, sebuah proses produksi yang baik adalah produksi yang menghasilkan produk yang menurut ukuran statistik memiliki 3.4 defects per milion opportunities (DPMO). jadi misal gue produksi 1 juta brownies, gue bisa dikatakan telah memenuhi parameter six sigma apabila hanya terdapat 3,4 buah brownies yang gagal atau terdapat cacat (defects).
Jadi intinya, gimana pun caranya, produk yang dijual itu harus konsisten. jangan kadang enak kadang nggak. kadang lembut kadang keras. kadang chewy kadang dry. kenapa? karena mereka yang beli hanya akan menilai apa yang dia dapatkan. misal si A sekali makan produk gue pas2an dapet yang agak gosong, ya dia bakal menggeneralisir kalau produk gue gosong. walopun misalnya yang gosong cuman sekali itu doang, dan sisanya (yang dibeli customer lain) gak gosong, ya itu bukan urusan si A ini.
nice, panjang bet gue ngomong.
lanjut.
kalo menurut pengalaman gue sendiri, yang paling susah itu adalah konsisten dalam proses pengadukan. kalau terlalu banyak diaduk, bakal banyak void udara yang bikin bronisnya terlalu ngembang. tapi kalau kurang diaduk, bakal masih banyak terigu yang menggumpal. intinya harus bisa pas.
hal kedua yang cukup rumit adalah pemilihan telur. telur ayam kan macem2 ukuran dan beratnya. kalau terlalu besar nanti adonannya terlalu encer, kalau terlalu kecil nanti adonannya terlalu kental. nah kadang si telur ini suka nipu. ukurannya sedang, tapi putih telurnya banyak banget (bikin encer) atau kadang kelihatannya gede, tapi isinya kecil.
oke, jadi intinya apa?
intinya, being consistent is not easy. it needs certain effort and strategy to make it work. but that's what counts!
This applies not only in the context of producing brownies, but also for our effort in everything, doesn't it?
This applies not only in the context of producing brownies, but also for our effort in everything, doesn't it?
Wednesday, 6 June 2018
My not-so-complete journey with piano
[ngabuburit-sambil-cerita series]
I started learning classical piano at the age of 7. I was in 2nd grade. None of my family members understands music, so I don't think I have any musical gene inside of me lol.
My teacher is a friend of my mom, who is actually a seriosa singer.
She is a very strict person. Major rules: harus cuci tangan dulu sebelum menyentuh piano, kuku gak boleh lebih panjang dari buku-buku jari (bagian ujung jari). Otherwise, les gak akan dimulai. Tiap abis les, kita selalu dikasih pr latihan, yg akan diuji saat sesi selanjutnya. Kalau lancar, maju ke part berikutnya. Kalo belum, ya ulang2 aja terus sampe lancar.
Kita punya 2 jenis buku, tiap jenis ada beberapa modul. Yg pertama buku latian penjarian (fingering) untuk melatih baca not balok. Sama satu lagi buku latihan yang isinya lagu-lagu untuk melatih tempo dan dinamik. Tiap buku terdiri dari banyak part (masing2 part 1-3 halaman) yg diberi nomor urutan.
Selama les banyak manis pahitnya. Terutama menyelesaikan modul latihan penjarian. Modul pertama gue inget namanya Gurlitt. Dulu gue bilangnya buku Sulitt. Karena emang sulit bgt :( rata2 orang butuh 3 tahun sendiri untuk lulus buku tersebut.
Ada masa di mana gue gak berani dtg les karena belum lancar mainin Gurlitt (yang dikasih sebagai PR). Karena kalau gak lancar2 biasanya dimarahin atau disentil tangannya. Pernah juga dipulangin sama gurunya wkwkkw. Ada masanya gue suka pura2 sakit biar gak usah les, gara2 selalu gak bisa maju ke part berikutnya selama hampir 2 bulan. Tapi di balik omelan2nya, guru gue selalu memotivasi dan bilang kalo udah lulus buku Gurlitt, not sesusah apapun bakal bisa 'dihadapi'. And it turned out that she was right.
Bagian menyenangkannya adalah tiap tahun guru gue ini mengadakan recital piano concert, di mana semua anak muridnya bakal disuruh tampil untuk memainkan minimal 2 buah lagu di depan audience (mostly ortu2 dari murid2 ini jg sih). Ini sesuatu bgt buat gue kecil yg sangat pemalu. Tampil di depan para hadirin, mainin piano, di sebelah lu ada kamera yg disambung ke proyektor yg ngerekam jari2 lu mainin piano. Bisa dibilang ini pertama kali gue belajar untuk tampil di depan umum.
Beberapa minggu sebelum konser itu selalu bikin gue semangat buat les, karena sesi lesnya akan difokuskan untuk persiapan lagu-lagu yang akan ditampilkan, sehingga evaluasi PR penjarian a.k.a si Gurlitt akan di skip sementara HEHE.
Recital yg paling berkesan bagi gue adalah yg pertama dan yang terakhir. Di recital pertama, gue mainin 2 buah lagu yg sangaaaaat sederhana. Dua2nya dgn nada dasar C mayor, karena emg belum belajar nada dasar2 lainnya. Bener-bener dari basic deh. But for me it was such an achievement. Bukan karena bisa main piano, tapi karena gue (yg gak suka jadi the center of attention ini) berani tampil di depan umum.
Di konser terakhir, which is 7 years after my first one, gue jadi murid tertua di antara murid2 lainnya, dgn track record les paling panjang. Kebayang gmn ekspektasi beliau sama penampilan gue kan y?
Gue menampilkan 4 buah lagu (2 of them are composed by Richard Clayderman :D); 2 lagu untuk pembukaan dan 2 lagu di penutup acara. Ditambah 2 lagu lagi ngiringin guru gue nyanyi seriosa. Latihannya berbulan2. Entah brp ratus kali lagu itu gue ulang2 (beneran). Tegang banget rasanya, takut mengecewakan. But at the end of the day, alhamdulillah, she was satisfied with my performance. Very satisfied. Everyone enjoyed the songs.
Not to brag, but I was so proud of myself. Why? It's not because I was able to play those difficult songs. No. But the fact that I started at 0 and realizing how far I've been through, that's what makes it special for me.
Dulu gue suka iri sama temen-temen gue karena waktu main gue berkurang, dipake untuk les piano dan latihan di rumah minimal 1 jam per hari. Tapi pada akhirnya it's all worth it. This journey has taught me about persistence, resilience and discipline, yang pada akhirnya berguna di kehidupan nyata gue skrg.
Sayangnya, gue terpaksa berhenti les waktu gue masuk SMA karena di asrama gaada piano jadi gak bisa latihan. Kuliah? Ain't nobody got time for this, dude :p. Sampe sekarang gak pernah lanjut les lagi, dan gak ada niatan untuk les lagi. Untuk skrg gue menganggap piano ini sebatas hobi dan rekreasi aja sih. Tapi selama masih ada piano di rumah, gue bakal tetep main.
Above all, having the opportunity to learn and improve is something to be grateful for. This is a story worth telling for my kids one day. And I think we should all encourage the kids to seriously pursue their hobbies while they're young (whatever their interest is) because I'm sure this will somehow shape their characters and will eventually help them in their future :)
I started learning classical piano at the age of 7. I was in 2nd grade. None of my family members understands music, so I don't think I have any musical gene inside of me lol.
My teacher is a friend of my mom, who is actually a seriosa singer.
She is a very strict person. Major rules: harus cuci tangan dulu sebelum menyentuh piano, kuku gak boleh lebih panjang dari buku-buku jari (bagian ujung jari). Otherwise, les gak akan dimulai. Tiap abis les, kita selalu dikasih pr latihan, yg akan diuji saat sesi selanjutnya. Kalau lancar, maju ke part berikutnya. Kalo belum, ya ulang2 aja terus sampe lancar.
Kita punya 2 jenis buku, tiap jenis ada beberapa modul. Yg pertama buku latian penjarian (fingering) untuk melatih baca not balok. Sama satu lagi buku latihan yang isinya lagu-lagu untuk melatih tempo dan dinamik. Tiap buku terdiri dari banyak part (masing2 part 1-3 halaman) yg diberi nomor urutan.
Selama les banyak manis pahitnya. Terutama menyelesaikan modul latihan penjarian. Modul pertama gue inget namanya Gurlitt. Dulu gue bilangnya buku Sulitt. Karena emang sulit bgt :( rata2 orang butuh 3 tahun sendiri untuk lulus buku tersebut.
Ada masa di mana gue gak berani dtg les karena belum lancar mainin Gurlitt (yang dikasih sebagai PR). Karena kalau gak lancar2 biasanya dimarahin atau disentil tangannya. Pernah juga dipulangin sama gurunya wkwkkw. Ada masanya gue suka pura2 sakit biar gak usah les, gara2 selalu gak bisa maju ke part berikutnya selama hampir 2 bulan. Tapi di balik omelan2nya, guru gue selalu memotivasi dan bilang kalo udah lulus buku Gurlitt, not sesusah apapun bakal bisa 'dihadapi'. And it turned out that she was right.
Bagian menyenangkannya adalah tiap tahun guru gue ini mengadakan recital piano concert, di mana semua anak muridnya bakal disuruh tampil untuk memainkan minimal 2 buah lagu di depan audience (mostly ortu2 dari murid2 ini jg sih). Ini sesuatu bgt buat gue kecil yg sangat pemalu. Tampil di depan para hadirin, mainin piano, di sebelah lu ada kamera yg disambung ke proyektor yg ngerekam jari2 lu mainin piano. Bisa dibilang ini pertama kali gue belajar untuk tampil di depan umum.
Beberapa minggu sebelum konser itu selalu bikin gue semangat buat les, karena sesi lesnya akan difokuskan untuk persiapan lagu-lagu yang akan ditampilkan, sehingga evaluasi PR penjarian a.k.a si Gurlitt akan di skip sementara HEHE.
Recital yg paling berkesan bagi gue adalah yg pertama dan yang terakhir. Di recital pertama, gue mainin 2 buah lagu yg sangaaaaat sederhana. Dua2nya dgn nada dasar C mayor, karena emg belum belajar nada dasar2 lainnya. Bener-bener dari basic deh. But for me it was such an achievement. Bukan karena bisa main piano, tapi karena gue (yg gak suka jadi the center of attention ini) berani tampil di depan umum.
Di konser terakhir, which is 7 years after my first one, gue jadi murid tertua di antara murid2 lainnya, dgn track record les paling panjang. Kebayang gmn ekspektasi beliau sama penampilan gue kan y?
Gue menampilkan 4 buah lagu (2 of them are composed by Richard Clayderman :D); 2 lagu untuk pembukaan dan 2 lagu di penutup acara. Ditambah 2 lagu lagi ngiringin guru gue nyanyi seriosa. Latihannya berbulan2. Entah brp ratus kali lagu itu gue ulang2 (beneran). Tegang banget rasanya, takut mengecewakan. But at the end of the day, alhamdulillah, she was satisfied with my performance. Very satisfied. Everyone enjoyed the songs.
Not to brag, but I was so proud of myself. Why? It's not because I was able to play those difficult songs. No. But the fact that I started at 0 and realizing how far I've been through, that's what makes it special for me.
Dulu gue suka iri sama temen-temen gue karena waktu main gue berkurang, dipake untuk les piano dan latihan di rumah minimal 1 jam per hari. Tapi pada akhirnya it's all worth it. This journey has taught me about persistence, resilience and discipline, yang pada akhirnya berguna di kehidupan nyata gue skrg.
Sayangnya, gue terpaksa berhenti les waktu gue masuk SMA karena di asrama gaada piano jadi gak bisa latihan. Kuliah? Ain't nobody got time for this, dude :p. Sampe sekarang gak pernah lanjut les lagi, dan gak ada niatan untuk les lagi. Untuk skrg gue menganggap piano ini sebatas hobi dan rekreasi aja sih. Tapi selama masih ada piano di rumah, gue bakal tetep main.
Above all, having the opportunity to learn and improve is something to be grateful for. This is a story worth telling for my kids one day. And I think we should all encourage the kids to seriously pursue their hobbies while they're young (whatever their interest is) because I'm sure this will somehow shape their characters and will eventually help them in their future :)
Subscribe to:
Comments (Atom)