Wednesday, 6 June 2018

My not-so-complete journey with piano

[ngabuburit-sambil-cerita series]

I started learning classical piano at the age of 7. I was in 2nd grade. None of my family members understands music, so I don't think I have any musical gene inside of me lol.

My teacher is a friend of my mom, who is actually a seriosa singer.

She is a very strict person. Major rules: harus cuci tangan dulu sebelum menyentuh piano, kuku gak boleh lebih panjang dari buku-buku jari (bagian ujung jari). Otherwise, les gak akan dimulai. Tiap abis les, kita selalu dikasih pr latihan, yg akan diuji saat sesi selanjutnya. Kalau lancar, maju ke part berikutnya. Kalo belum, ya ulang2 aja terus sampe lancar.

Kita punya 2 jenis buku, tiap jenis ada beberapa modul. Yg pertama buku latian penjarian (fingering) untuk melatih baca not balok. Sama satu lagi buku latihan yang isinya lagu-lagu untuk melatih tempo dan dinamik. Tiap buku terdiri dari banyak part (masing2 part 1-3 halaman) yg diberi nomor urutan.

Selama les banyak manis pahitnya. Terutama menyelesaikan modul latihan penjarian. Modul pertama gue inget namanya Gurlitt. Dulu gue bilangnya buku Sulitt. Karena emang sulit bgt :( rata2 orang butuh 3 tahun sendiri untuk lulus buku tersebut.

Ada masa di mana gue gak berani dtg les karena belum lancar mainin Gurlitt (yang dikasih sebagai PR). Karena kalau gak lancar2 biasanya dimarahin atau disentil tangannya. Pernah juga dipulangin sama gurunya wkwkkw. Ada masanya gue suka pura2 sakit biar gak usah les, gara2 selalu gak bisa maju ke part berikutnya selama hampir 2 bulan. Tapi di balik omelan2nya, guru gue selalu memotivasi dan bilang kalo udah lulus buku Gurlitt, not sesusah apapun bakal bisa 'dihadapi'. And it turned out that she was right.

Bagian menyenangkannya adalah tiap tahun guru gue ini mengadakan recital piano concert, di mana semua anak muridnya bakal disuruh tampil untuk memainkan minimal 2 buah lagu di depan audience (mostly ortu2 dari murid2 ini jg sih). Ini sesuatu bgt buat gue kecil yg sangat pemalu. Tampil di depan para hadirin, mainin piano, di sebelah lu ada kamera yg disambung ke proyektor yg ngerekam jari2 lu mainin piano. Bisa dibilang ini pertama kali gue belajar untuk tampil di depan umum.

Beberapa minggu sebelum konser itu selalu bikin gue semangat buat les, karena sesi lesnya akan difokuskan untuk persiapan lagu-lagu yang akan ditampilkan, sehingga evaluasi PR penjarian a.k.a si Gurlitt akan di skip sementara HEHE.

Recital yg paling berkesan bagi gue adalah yg pertama dan yang terakhir. Di recital pertama, gue mainin 2 buah lagu yg sangaaaaat sederhana. Dua2nya dgn nada dasar C mayor, karena emg belum belajar nada dasar2 lainnya. Bener-bener dari basic deh. But for me it was such an achievement. Bukan karena bisa main piano, tapi karena gue (yg gak suka jadi the center of attention ini) berani tampil di depan umum.

Di konser terakhir, which is 7 years after my first one, gue jadi murid tertua di antara murid2 lainnya, dgn track record les paling panjang. Kebayang gmn ekspektasi beliau sama penampilan gue kan y?

Gue menampilkan 4 buah lagu (2 of them are composed by Richard Clayderman :D); 2 lagu untuk pembukaan dan 2 lagu di penutup acara. Ditambah 2 lagu lagi ngiringin guru gue nyanyi seriosa. Latihannya berbulan2. Entah brp ratus kali lagu itu gue ulang2 (beneran). Tegang banget rasanya, takut mengecewakan. But at the end of the day, alhamdulillah, she was satisfied with my performance. Very satisfied. Everyone enjoyed the songs.

Not to brag, but I was so proud of myself. Why? It's not because I was able to play those difficult songs. No. But the fact that I started at 0 and realizing how far I've been through, that's what makes it special for me.

Dulu gue suka iri sama temen-temen gue karena waktu main gue berkurang, dipake untuk les piano dan latihan di rumah minimal 1 jam per hari. Tapi pada akhirnya it's all worth it. This journey has taught me about persistence, resilience and discipline, yang pada akhirnya berguna di kehidupan nyata gue skrg.

Sayangnya, gue terpaksa berhenti les waktu gue masuk SMA karena di asrama gaada piano jadi gak bisa latihan. Kuliah? Ain't nobody got time for this, dude :p. Sampe sekarang gak pernah lanjut les lagi, dan gak ada niatan untuk les lagi. Untuk skrg gue menganggap piano ini sebatas hobi dan rekreasi aja sih. Tapi selama masih ada piano di rumah, gue bakal tetep main.

Above all, having the opportunity to learn and improve is something to be grateful for. This is a story worth telling for my kids one day. And I think we should all encourage the kids to seriously pursue their hobbies while they're young (whatever their interest is) because I'm sure this will somehow shape their characters and will eventually help them in their future :)

No comments:

Post a Comment