Thursday, 7 June 2018

about consistency

[ngabuburit-sambil-cerita series]

Jadi udah beberapa bulan ini gue jualan brownies bakar. Awal mulanya gue cuma bikin-bikin kue dalam rangka nyari kegiatan biar gak stress karena gabut. Tapi lama-lama gue mikir, semakin banyak gue masak, akan semakin banyak gue makan. makin melar lah gue. wkwk gakdeng, concern utama gue sebenernya konsumsi gula yang akan terus-terusan. 

mulai lah gue coba untuk jualin. gue tetep berkegiatan, gak terus2an makan, dapet duit pula kan wkkwkw. kenapa brownies? sebenernya gaada alasan khusus. gue cuman ngerasa aja brownies bikinan gue lebih enak daripada brownies2 lain yang pernah gue beli WKWKKWKW (tidak ada survey pasar, hanya penilaian yang sangat subjektif dan super pede)

seperti strategi jualan gue yang udah-udah (mungkin lain kali gue cerita), gue fokus ke nyari reseller yang strategis. karena gue sadar skill sales and marketing gue kurang oke, makanya akan lebih baik jika gue mendelegasikan tugas ini ke orang lain yg udah punya pasar tersendiri.

dan kali ini penugasan gue jatuh kepada nyokap gue :"D 

jadi gue bikin poster ala-ala pake tools ig story (HAHAHHA) terus gue minta tolong nyokap buat share ke grup-grup ibu-ibu yg ada di whatsappnya. terus kalo nyokap mau ada arisan atau acara, gue bekelin tester buat dicobain sama buibu lainnya. simple right? 

tapi ternyata, the power of emak-emak, it was like a tipping point. that strategy works so effectively :") order pun unexpectedly berdatangan. i'm so thankful! lesson learned; never underestimate the power of emak2 heheheheh

---

skill keteknikan yang gue dapet di kuliah ternyata ada gunanya. 

daripada baca buku resep yang isinya kalimat-kalimat perintah dan narasi, resepnya gue coba bikin kayak flowchart gitu. lengkap dengan takaran2 dan satuannya, yang bisa di-adjust sesuai demand. jadi tinggal sesuain inputnya aja kwkwkwkw.

terus untuk hitung bahan baku dan modal, gue bikin mass balance yang diintegrasi sama tabel harga beli bahan baku untuk kalkulasi harga. ini menurut gue sangat membantu, jadi misalnya ada request khusus pengen gulanya dikurangin atau gimana, gue tinggal input berapa persen pengurangan, terus angka-angka di tabel tadi langsung berubah menyesuaikan, begitupun dengan total harga modal. karena bahan baku yang harganya cukup fluktuatif (esp. telur dan gula), gue juga bisa ngedata berapa keuntungan gue secara pasti dari tiap batch hanya dengan menginput ke tabel tersebut (intinya begitu lah ya, agak rempong jelasinnya wkwkkwwk). 

---

kembali ke judul, about consistency. sejauh ini, ini merupakan tantangan terbesar gue dalam memproduksi makanan.

kalo menurut prinsip 6 sigma, sebuah proses produksi yang baik adalah produksi yang menghasilkan produk yang menurut ukuran statistik memiliki 3.4 defects per milion opportunities (DPMO). jadi misal gue produksi 1 juta brownies, gue bisa dikatakan telah memenuhi parameter six sigma apabila hanya terdapat 3,4 buah brownies yang gagal atau terdapat cacat (defects).

Jadi intinya, gimana pun caranya, produk yang dijual itu harus konsisten. jangan kadang enak kadang nggak. kadang lembut kadang keras. kadang chewy kadang dry. kenapa? karena mereka yang beli hanya akan menilai apa yang dia dapatkan. misal si A sekali makan produk gue pas2an dapet yang agak gosong, ya dia bakal menggeneralisir kalau produk gue gosong. walopun misalnya yang gosong cuman sekali itu doang, dan sisanya (yang dibeli customer lain) gak gosong, ya itu bukan urusan si A ini. 

nice, panjang bet gue ngomong. 
lanjut.

kalo menurut pengalaman gue sendiri, yang paling susah itu adalah konsisten dalam proses pengadukan. kalau terlalu banyak diaduk, bakal banyak void udara yang bikin bronisnya terlalu ngembang. tapi kalau kurang diaduk, bakal masih banyak terigu yang menggumpal. intinya harus bisa pas.

hal kedua yang cukup rumit adalah pemilihan telur. telur ayam kan macem2 ukuran dan beratnya. kalau terlalu besar nanti adonannya terlalu encer, kalau terlalu kecil nanti adonannya terlalu kental. nah kadang si telur ini suka nipu. ukurannya sedang, tapi putih telurnya banyak banget (bikin encer) atau kadang kelihatannya gede, tapi isinya kecil. 

oke, jadi intinya apa? 
intinya, being consistent is not easy. it needs certain effort and strategy to make it work. but that's what counts! 

This applies not only in the context of producing brownies, but also for our effort in everything, doesn't it?




No comments:

Post a Comment