Sunday, 11 December 2016

higher level

Kebiasaan akhir tahun, biasanya sering iseng baca-baca post tahun-tahun sebelumnya di blog ini, di blog sana, di blog itu, di buku coret-coretan waktu SMA, di notes hp, dan di laptop.

(ya, cara paling mudah untuk merapikan pikiran yg kusut adalah nulis2 random di manapun)

Jadi geli sendiri,

Dulu....
Sebegitu takut kah gue akan UN SMP?
Sebegitu takut kah gue akan dunia SMA?
Sebegitu bimbang kah gue memilih untuk lanjut kuliah?
Sebegitu pusingnya kah gue menghadapi uts?
Sebegitu susahnya kah matkul aljabar linear?
Sebegitu seram kah presentasi di depan dosen?

---

After all, kesimpulan yang bisa diambil dari semua ini adalah everything that happens in this life is all about achieving a higher level; of everything, in many context.

Ketika maba rasanya uts adalah sebuah ujian yang 'wow', soal-soalnya serem, harus belajar banget. Namun seiring dengan banyaknya badai cobaan-cobaan yang lebih 'wow' selama sekian semester berkuliah, uts bukan lagi menjadi sesuatu yang sangat 'wow', melainkan hanya sebuah fase yang yaudah-lewatin-aja-ntar-juga-kelar.

Sama halnya dengan begadang. Dulu waktu masih sekolah, belajar hingga melebihi jam 12 rasanya sudah sangat dewa, udah capek banget. Namun seiring dengan bertambahnya beban pekerjaan selama berkuliah seperti laprak dan tugas-tugas lainnya, lama-lama staying awake until the sun rises again becomes a not-so-special thing. (Belum lagi rapat-rapat dan agenda-agenda eksplorasi :p)

Sama halnya dengan membaca jurnal, dulu rasanya baca satu jurnal itu sangat memusingkan, banyak istilah-istilah baru yang aneh-aneh. Sekarang? Rasanya tiap minggu mau gak mau harus ada jurnal yang dibaca--unless tugas akhir gak akan berprogress. Jurnal-jurnal dari berbagai disiplin ilmu pun jadi terasa menarik untuk iseng-iseng ditelaah.

Sama halnya dengan berorganisasi, pada awalnya terasa seperti gak tau harus apa, buta. Bingung harus ambil keputusan yang mana, belum tahu medan. Memilih untuk 'iya aja' sama semua yang dibilang orang, selain untuk menghindari pertikaian, juga karena belum punya dasar untuk mendebat. Tapi lambat laun, seiring dengan banyaknya masalah-masalah yang harus dihadapi, kita semacam 'dipaksa' oleh keadaan untuk menghadapi berbagai pilihan sulit dan menyelesaikannya secara bijak. Adu argumen pun terasa sah-sah aja. No hard feelings.

Sama halnya dengan bermain piano, dulu pernah sampai nangis dan gak berani dateng ke tempat les karena belum lancar mainin Gurlitt (yang pernah belajar piano klasik pasti ngerti betapa kejamnya buku ini :"). Sekarang, membaca not balok terasa begitu mudah, jari-jari bisa dengan lentiknya digerakkan untuk memainkan tuts2 piano.

Sama halnya dengan bermain dota, di mana saat early game, kita harus bolak balik makan pohon (?) supaya health-nya gak habis, nabung mana, creep farming. Tapi seiring dengan banyaknya duit yang didapat, tambah canggihnya item-item yang dibeli, pada late game kita bisa fokus untuk melakukan hal lebih besar yaitu menyerang hero lainnya dan menghancurkan tower, tanpa perlu risau dengan health dan mana karena mereka secara otomatis akan bertambah (up to certain point).

Dan masih banyak lagi….

Mungkin suatu hari nanti, ketika sudah berada di level yang lebih tinggi, gue akan tersenyum sembari ngetawain diri gue saat ini yang sedang terseok-seok menyelesaikan tugas akhir.

Hehe…

Pertanyaan terakhir,

Terus bagaimana dengan keadaan ruhiyahmu, Ahaddd? Apakah terus bertambah level? Atau stuck di situ-situ aja?

No comments:

Post a Comment